Selamatkan Hutan Kita

oleh Tim Petualangan Banyu

Tanggal 14/03/2015

Bagi kita, manusia-manusia yang hidup di perkotaan, hutan akan terasa jauh sekali, baik dari segi jarak maupun rasa keterikatan. Tentu saja di Kota kita jarang menemukan hutan kecuali hutan kota, kehadiran taman kota pun sudah berganti dengan jalan-jalan ataupun infrastruktur kota lainnya (kecuali di kota-kota yang sedang menggalakkan program aktivasi taman). Oleh karena itu, apa yang terjadi di hutan tidak kita pedulikan, karena hal tersebut tidak terjadi di depan mata kita, tentu banyak yang lebih memperhatikan kasus-kasus anak jalanan, kriminal di jalanan karena hal tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Padahal hutan menopang kehidupan kita secara tidak langsung, jika kita melihat ke sekeliling kita, sebagian besar barang yang kita gunakan itu berasal dari hutan. Mulai dari kertas-kertas yang kita gunakan, barang-barang lainnya seperti perabotan rumah tangga pun berasal dari hutan, bahkan oksigen yang membuat kita hidup selama ini pun dihasilkan dari hutan. Tapi apa yang terjadi selama ini, penopang kehidupan kita ini semakin rusak karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang lain, hal ini ditunjukkan pada saat perjalanan Bearing Witness bersama Greenpeace Indonesia di Riau pada 22-25 Maret 2014.

Sekilas mengenai Bearing Witness: “Bearing Witness adalah salah satu DNA Greenpeace sebagai organisasi kampanye lingkungan. Tahun 1971 para pendiri Greenpeace berlayar ke Amchitka sebuah pulau kecil di lepas pantai Alaska untuk ‘menjadi saksi’ kerusakan akibat uji coba nuklir yang dilakukan Amerika Serikat. Setelah itu ‘bearing witness’ atau menjadi saksi dan bersaksi selalu melekat dalam aktifitas kampanye Greenpeace. Karena kami percaya perubahan dimulai ketika kita ‘menyaksikan’ dan ‘bersaksi’

Pada perjalanan Bearing Witness ini kami pun diagendakan untuk ‘menyaksikan’ beberapa tempat di Riau dengan keunikan dan keindahannya masing-masing, yaitu Desa Dosan di Kabupaten Siak, Teluk Meranti dan Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Pelalawan.

Desa Dosan
Perjalanan menuju Desa Dosan dari Kota Pekanbaru ditempuh dengan waktu + 4 jam dengan kondisi jalan yang sebagian masih berbatu, pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan dihiasi dengan perkebunan kelapa sawit dari yang usianya masih muda sampai dengan sawit yang sudah tua. Kami pun sampai di Desa Dosan pada malam hari dengan beberapa kali kebingungan di jalan, karena kondisi jalan yang sudah gelap dengan tidak adanya lampu membuat Bapak Sopir sedikit ragu. Kami pun disambut oleh Bapak Dahlan, tokoh masyarakat Desa Dosan, dan dipersilakan untuk bermalam di rumahnya. Pada saat malam itu pun Bapak Kepala Desa bergabung dengan kami dan menceritakan hal-hal menarik dari Desa Dosan ini. Greenpeace membawa rombongan Bearing Witness ke Desa Dosan ini untuk menunjukkan bahwa Desa Dosan ini telah menerapkan pengelolaan perkebunan sawit yang bertanggungjawab, hal ini pun dikuatkan oleh pemaparan dari Bapak Kades.

Menurut Bapak Kades, Desa Dosan dulu dikategorikan sebagai desa yang tertinggal, banyak warga desa yang tidak mengenyam bangku sekolah. Pada tahun 2003, Bapak Dahlan yang merupakan tokoh masyarakat Desa Dosan dan juga telah memiliki pengalaman sebagai pekerja perkebunan sawit, mengenalkan praktek perkebunan sawit ke warga Dosan. Praktek perkebunan sawit yang dikelola oleh warga Dosan menarik perhatian LSM yaitu Yayasan Elang untuk melakukan riset dan akhirnya mendampingi warga Dosan untuk mengelola perkebunan sawit dengan lebih baik lagi. Yayasan Elang pun memberikan banyak masukan pada praktek perkebunan sawit di Dosan, salah satunya yaitu pengelolaan kebun dengan sistem intensifikasi yaitu tidak memperluas lahan, warga diarahkan untuk meningkatkan hasil kebun dengan mengatur pola pengairannya dan tanpa menggunakan herbisida sehingga menjadi lebih ramah lingkungan. Warga pun menyadari pentingnya keberadaan hutan alami di wilayah Dosan sehingga mereka bersepakat untuk tidak memperluas lahan perkebunannya dengan merambah wilayah hutan alam, hal ini pun didukung dengan perangkat pemerintahan di desa, telah dikeluarkan Peraturan Desa yang menyatakan bahwa telah ditetapkan area konservasi di wilayah Dosan yang tidak boleh dialihfungsikan dan akan terus dijaga.

Keesokan harinya kami pun mengunjungi salah satu wilayah konservasi warga Dosan yaitu Danau Nagasakti. Menurut Bapak Dahlan penamaan danau ini berdasarkan kesaktiannya karena ketika musim hujan wilayah di sekitar danau ini tidak pernah banjir, dan ketika musim kemarau danau ini pun tidak pernah kering.

Lihat catatan lainnya

  • Aktivasi Petualangan Banyu Bersama HSBC Indonesia

    Terima kasih kepada HSBC Indonesia yang sudah mendukung adanya Program Aktivasi Petualangan Banyu selama ini, juga rekan-rekan Saung Palakali yang turut serta membantu dalam pelaksanaannya. Semoga budaya kolaborasi ini dapat memicu semangat berbagai pihak untuk menyebarkan semangat peduli lingkungan khususnya isu persampahan di Indonesia.

  • LCD Proyektor Kebutuhan Utama

    Masalah sampah menjadi sebuah permasalahan krusial diberbagai daerah, termasuk di Kota Batu. Sebagai kota wisata, kota ini memiliki permasalahan sampah yang lebih kompleks dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Jumlah wisatawan yang datang ke kota ini jauh lebih besar ketimbang jumlah penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk di 24 desa dan kelurahan terdapat 189.281 […]

  • Ikrar Menjaga Lingkungan

    Siswa SDN Tulungrejo 2, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu berikrar menjaga kelestarian sumber air dan menghargai air dengan menorehkan cap tangan komitmen mereka di spanduk. Diantara tawa ceria para siswa, ada komitmen untuk tidak membuang sampah dan menghemat air di rumah mereka. Kebulatan tekad itu mereka buat setelah para siswa diajak untuk mengenal asal usul air […]