LCD Proyektor Kebutuhan Utama

oleh Tim Petualangan Banyu

Tanggal 16/12/2015

Masalah sampah menjadi sebuah permasalahan krusial diberbagai daerah, termasuk di Kota Batu. Sebagai kota wisata, kota ini memiliki permasalahan sampah yang lebih kompleks dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Jumlah wisatawan yang datang ke kota ini jauh lebih besar ketimbang jumlah penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk di 24 desa dan kelurahan terdapat 189.281 jiwa. Sementara jumlah kunjungan wisata tahun 2016 mendatang ditargetkan sebanyak 3,8 juta wisatawan datang ke kota apel ini. Data BPS tahun 2014 tercatat jumlah hotel dan usaha akomodari lain di Kota Batu sebanyak 500 buah, sedangkan jumlah kamar yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan wisatawan baik domestik maupun asing sebanyak 5.484 unit dengan jumlah tempat tidur sebanyak 10.188 unit. Sementara jumlah hotel yang ada, 11 hotel berbintang dengan 1.218 kamar dan 2.245 tempat tidur sedangkan hotel non bintang sebanyak 489 hotel dengan 4266 kamar dan 7.945 tempat tidur. Kota wisata ini adalah kota terbanyak kedua yang memiliki hotel berbintang setelah ibu kota propinsi Surabaya. Kunjungan wisatawan tertinggi terjadi pada bulan Agustus, Oktober dan Desember. BPS juga menyebutkan bahwa rata-rata tamu menginap di Kota Batu pada tahun 2014 rata-rata 2 hingga 3 hari. Artinya penghasil sampah terbesar di kota ini adalah sampah yang dibawa dan dihasilkan oleh wisatawan. Sementara masalah sampah domestik juga belum terselesaikan dengan baik. Salah satu indikator kegagalan kota wisata ini dalam mengelola sampah adalah sejak Kota Batu berdiri pada tahun 2001, kota ini belum pernah mendapatkan penghargaan adipura. Jika musim liburan tiba, dalam sehari jumlah sampah yang terangkut truk sampah sejumlah 60 hingga 70 ton sampah perharinya. Begitu besarnya sampah yang diproduksi tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang baik, hasilnya di awal datangnya musim penghujan, Alun-Alun Kota Batu pun meledak karena sampah (http://www.malangekspres.com/mbatu/1791-penuh-sampah-alun-alun-kota-batu-meledak).

Kota wisata membutuhkan solusi permasalahan sampah. Zona Bening, sebuah komunitas peduli lingkungan hadir memberikan sebuah sentuhan kecil langsung kepada masyarakat. Berjalannya sistem pengelolaan sampah yang baik tidak lepas dari peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan. Dari sebuah diskusi panjang dan proses pendampingan langsung kepada masyarakat terciptalah konsep yang lahir secara alamiah. Zona Bening menyelenggarakan kelas lingkungan yang dilaksanakan berpindah-pindah dari sudut kampung yang satu ke sudut kampung lainnya. Awalnya kelas lingkungan ini dilakukan dengan pemberian edukasi kepada anak-anak sambil berjalan-jalan dan bermain di tepian sungai sembari membersihkan sampah di sungai. Disetiap kegiatan selalu diakhiri dengan menanam pohon. Para bocah selalu menutup aktifitas menanam pohon itu dengan doa, dengan harapan biar tanaman tersebut bisa tumbuh dengan baik. Dalam berbagai evaluasi kegiatan yang dilakukan, belajar langsung dari alam belum cukup untuk memberikan penyadaran kuat kepada anak-anak. Diperlukan sebuah komposisi pembelajaran yang singkat, padat dan berisi.

Kelas lingkungan adalah media edukasi agar adik-adik kenal dengan lingkungan dan diberikan pengetahuan tentang lingkungan sehingga timbul kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan. Pola pembelajaran kelas lingkungan yang lama dinilai kurang dari sisi pemberian edukasi lingkungan secara teoritis. Zona Bening bersyukur ada media edukasi lewat film Petualangan Banyu, Petualangan Sampah yang sangat membantu dalam memberikan pengetahuan dan berbagai bentuk kegiatan mendidik yang bisa dilakukan anak. Zona Bening gencar mendorong kelas lingkungan ini lantaran pemberian materi pendidikan lingkungan hidup di sekolah rata-rata sangat padat teori, sehingga para siswa jenuh. Hal ini membuat penyerapan kesadaran tentang pentingnya lingkungan jadi kurang maksimal.

Begitu kelas lingkungan digulirkan, respon masyarakat terhadap Petualangan Banyu dan Petualangan Sampah sangat bagus. Tidak hanya orang tua memberikan dukungan, namun sang bocah juga kerasan mengikuti setiap sesi kelas lingkungan yang dilakukan oleh Zona Bening. Hanya saja, kendala utama setiap pelaksanaan kelas lingkungan adalah ketidaktersediaan LCD Proyektor sebagai media untuk edukasi lewat film. Dalam beberapa kali kegiatan, Zona Bening terpaksa meminjam LCD Proyektor di berbagai instansi pemerintahan, sekolah bahkan bila tidak ada LCD Proyektor yang bisa dipinjam, Zona Bening menyewa LCD Proyektor. Ketidaktersediaan LCD Proyektor ini cukup menganggu, pasalnya visualisasi keilmuan lewat film tidak bisa dilaksanakan.

Keberhasilan dari setiap kegiatan, LCD Proyektor menjadi kebutuhan utama. Berbagai cara dilakukan oleh Zona Bening untuk mendapatkan LCD Proyektor tersebut. Termasuk salah satunya dengan membuat ecobag untuk dijual, keuntungannya dipergunakan untuk tabungan membeli LCD Proyektor. Tas lingkungan ini dijual oleh Zona Bening di pusat-pusat keramaian, setiap keping rupiah yang terkumpul terdapat semangat untuk memberikan penyadaran lingkungan sejak dini kepada anak. Hingga mengumpulkan donasi dari masyarakat peduli lingkungan. Memiliki sebuah LCD Proyektor tanpa harus meminjam terlebih dahulu di sebuah sekolah di perbatasan Kota Batu dengan Kabupaten Mojokerto seolah menjadi impian, hingga akhirnya impian itu terwujud setelah mendapatkan hadiah LCD Proyektor dari Petualangan Banyu / Greeneration Indonesia. ā€œUcapan terima kasih kita kepada petualangan Banyu /Greeneration Indonesia,ā€ ungkap Rere.

Lihat catatan lainnya

  • Aktivasi Petualangan Banyu Bersama HSBC Indonesia

    Terima kasih kepada HSBC Indonesia yang sudah mendukung adanya Program Aktivasi Petualangan Banyu selama ini, juga rekan-rekan Saung Palakali yang turut serta membantu dalam pelaksanaannya. Semoga budaya kolaborasi ini dapat memicu semangat berbagai pihak untuk menyebarkan semangat peduli lingkungan khususnya isu persampahan di Indonesia.

  • Ikrar Menjaga Lingkungan

    Siswa SDN Tulungrejo 2, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu berikrar menjaga kelestarian sumber air dan menghargai air dengan menorehkan cap tangan komitmen mereka di spanduk. Diantara tawa ceria para siswa, ada komitmen untuk tidak membuang sampah dan menghemat air di rumah mereka. Kebulatan tekad itu mereka buat setelah para siswa diajak untuk mengenal asal usul air […]

  • Rumah Belajar Mentari: Hangat dan Seru

    Pada hari Kamis tanggal 19 November 2015, kami kembali mengaktifasi modul Petualangan Banyu di rumah belajar Mentari. Lokasi rumah belajar Mentari berada di desa Ciburial kabupaten Dago, dekat dengan Dago Golf maupun Dago Resor. Petualangan Banyu kali ini diikuti oleh 19 adik dan tujuh orang kakak fasilitator. Sesuai dengan komitmen minggu lalu, setiap adik yang […]