Ikrar Menjaga Lingkungan

oleh Tim Petualangan Banyu

Tanggal 16/12/2015

Siswa SDN Tulungrejo 2, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu berikrar menjaga kelestarian sumber air dan menghargai air dengan menorehkan cap tangan komitmen mereka di spanduk. Diantara tawa ceria para siswa, ada komitmen untuk tidak membuang sampah dan menghemat air di rumah mereka. Kebulatan tekad itu mereka buat setelah para siswa diajak untuk mengenal asal usul air sekaligus mengetahui seberapa pentingnya air untuk kehidupan oleh Keluarga Zona Bening, sebuah komunitas lingkungan di Kota Batu. Begitu mereka tahu begitu pentingnya air untuk kehidupan, mereka pun bersepakat untuk selalu menjaga kebersihan dan kelestarian air di lingkungan mereka.

Jovita, salah satu siswa kelas 3 langsung menaruh tangannya di cat yang sudah disiapkan, kemudian menempelkannya ke spanduk yang tersedia. “Saya kan sudah berjanji untuk menjaga air, karena itu saya cap tangan di spanduk biar selalu ingat,” ujar Jovita. Ia bersama teman-temannya satu kelas berjanji akan menghargai air dengan selalu menghemat air yang ada. Tapi namanya anak, ketika ditanya fasilitator mengenai cara menghemat air, ada salah satu siswa langsung berceloteh. “Tidak mandi,”. Para siswa ini pun tertawa tergelak, meski setelah itu mereka kembali menegaskan tekad untuk selalu menghargai air.

            Hari itu para siswa diajak untuk mengenali asal air mulai dari penguapan air laut, kemudian terjadi hujan, hingga akhirnya air bisa dipergunakan untuk kebutuhan manusia. Mereka juga diajak untuk menonton film petualangan air, bermain puzzle yang mengambarkan alur air hingga kegunaannya serta membuat alat penyaring air sederhana dengan menggunakan bekas botol air mineral, sabut kelapa, kapas, arang serta kerikil. “Apa yang kita lakukan adalah menanamkan kesadaran mencintai lingkungan sejak dini. Ketika para siswa mengetahui pentingnya air untuk kehidupan, mereka akan tergerak untuk menjaga dan menghargai air,” ujar Rere fasilitator dari Keluarga Zona Bening. Ahmad Yunus, Coorporate Legal Perusahaan Jasa Tirta (PJT) 1 menjelaskan bahwa saat ini diperlukan langkah-langkah kongkrit untuk penghematan air. “Di Bumi ini, hanya 2,5 persen saja air yang kondisinya tawar ada di permukaan, perilaku pengguna air yang satu dengan pengguna air lainnya saling berpengaruh, karena itu diperlukan adanya kesadaran untuk selalu menjaga dan melakukan penghematan air,” terangnya.

            Kegiatan lain dilaksanakan Zona Bening di Rumah Baca Mejikuhibiniu, Jl Mawar Putih, Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Puluhan bocah yang datang diajak mengenal asal usul air dengan cara menonton film dan mempraktekkannya secara langsung. Puluhan bocah ini diajak mengenali asal muasal air. Mulai dari penguapan air laut hingga sampai ke  rumah melalui film yang mereka tonton. Tidak cukup disitu, anak-anak diajak untuk bermain puzzle yang mengambarkan alur air hingga kegunaannya. Bahkan mereka diajak untuk praktek membuat alat sederhana untuk menyaring air kotor hingga menjadi air bersih dengan menggunakan bekas botol air mineral, sabut kelapa, kapas, arang serta kerikil.

            “Lewat kegiatan ini kita ingin mengajak anak-anak untuk mengetahui persis asal usul air, serta mengetahui manfaatnya air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas Rere, pemateri dari Keluarga Zona Bening. Setelah menonton film, anak-anak diajak untuk menceritakan kembali apa yang telah mereka tonton, sekaligus berdialog tentang pentingnya melestarikan air. Dalam kesempatan itu pula, anak-anak diajak untuk menghemat air dan melestarikan sumber air dengan melakukan penanaman pohon dan menjaga agar tidak membuang sampah sembarangan.“Kita juga berharap agar anak-anak ini dapat menyebutkan berbagai aktivitas manusia yang berdampak pada air,” ujar Rere. Agar lebih seru lagi, para pemateri mengajak anak-anak tersebut bermain detektif air, dimana setiap anak dijadikan detektif untuk menjaga agar sumber air tetap lestari dengan membersihkan air dan menyelamatkan kota yang mereka beri nama kota gelombang. Melalui kegiatan ini, Rere berharap anak-anak ini bisa muncul kesadaran dan tekad untuk menjaga sumber air dan menghemat air hingga sekarang. Ninik Iswahyuni, Ketua Rumah Baca Mejikuhibiniu memberikan apresiasi kepada Zona Bening yang bisa memberikan kesadaran pentingnya menjaga air kepada para bocah. “Kalau anak-anak diajari sejak dini, akan muncul kesadaran yang kuat pada diri anak-anak. Mereka tentunya tidak hanya bisa menahan diri mereka sendiri, mereka pasti juga bisa mengajak ayah ibu dan saudara-saudara mereka untuk selalu menjaga air,” ujarnya.

Di kampung lain, Zona Bening membuat anak-anak bergidik, mereka semburat lari ketakutan saat melihat monster sampah mengejarnya. Namun tidak berselang lama, mereka tertawa tergelak saat tertangkap monster yang tubuhnya dipenuhi plastik tersebut. Monster sampah ini bukanlah monster sesungguhnya, namun hanya seorang laki-laki yang menggunakan baju plastik layaknya sampah berjalan. Monster ini sebenarnya hanyalah simbol sebuah bencana yang akan terjadi ketika manusia masih membuang sampah sembarangan dan tidak mengendalikannya. Suasana itu yang terjadi dalam kelas lingkungan bertajuk Petualangan Sampah yang dilaksanakan oleh komunitas Keluarga Zona Bening di Pondok Kreatif RT 4 RW 3 Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu.

            Sejak pagi hari bocah-bocah ini mendapatkan edukasi tentang sampah, apa sebenarnya sampah, jenis-jenis sampah hingga berbagai bencana alam yang mungkin terjadi akibat sampah yang tidak terkendali. Tidak hanya itu, para peserta yang masih duduk di bangku TK hingga SD ini diajak untuk menonton film kartun sampah. Selanjutnya mereka diajak untuk berburu sampah yang ada kemudian memilahnya. “Kita sedang berusaha membangun kesadaran anak akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kalau anak sudah sadar mereka akan mengingatkan orang tua mereka dan orang-orang disekelilingnya agar tidak membuang sampah sembarangan,” terang Rere koordinator Zona Bening.

            Jumlah sampah yang ada saat ini, menurut Rere sudah sangat tidak terkendali. Setiap hari, jumlah sampah semakin banyak. "Kalau dihitung jumlah sampah di Indonesia, 55 kali besarnya wilayah Candi Borobudur," ujar Rere menceritakan hasil riset ITB. Tidak hanya sampah yang mudah terurai, namun banyak sampah yang tidak bisa terurai. Karena itulah lewat edukasi sampah ini, bocah-bocah ini juga diajak untuk mengurangi penggunaan sampah, salah satunya mengurangi penggunaan plastik. “Karena itu diakhir acara, anak-anak kita ajak membuat tas belanja untuk ibunya dari kaos bekas, harapannya sang ibu bisa mengurangi penggunaan plastik,” terangnya. Tas dari kaos bekas ini kemudian diberikan bocah-bocah ini kepada ibunya sebagai kado.

Leave a Reply

Lihat catatan lainnya

  • Aktivasi Petualangan Banyu Bersama HSBC Indonesia

    Terima kasih kepada HSBC Indonesia yang sudah mendukung adanya Program Aktivasi Petualangan Banyu selama ini, juga rekan-rekan Saung Palakali yang turut serta membantu dalam pelaksanaannya. Semoga budaya kolaborasi ini dapat memicu semangat berbagai pihak untuk menyebarkan semangat peduli lingkungan khususnya isu persampahan di Indonesia.

  • LCD Proyektor Kebutuhan Utama

    Masalah sampah menjadi sebuah permasalahan krusial diberbagai daerah, termasuk di Kota Batu. Sebagai kota wisata, kota ini memiliki permasalahan sampah yang lebih kompleks dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Jumlah wisatawan yang datang ke kota ini jauh lebih besar ketimbang jumlah penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk di 24 desa dan kelurahan terdapat 189.281 […]

  • Rumah Belajar Mentari: Hangat dan Seru

    Pada hari Kamis tanggal 19 November 2015, kami kembali mengaktifasi modul Petualangan Banyu di rumah belajar Mentari. Lokasi rumah belajar Mentari berada di desa Ciburial kabupaten Dago, dekat dengan Dago Golf maupun Dago Resor. Petualangan Banyu kali ini diikuti oleh 19 adik dan tujuh orang kakak fasilitator. Sesuai dengan komitmen minggu lalu, setiap adik yang […]